KKP-UNDP Dorong Peningkatan Produksi dan Hilirisasi Rumput Laut Gracilaria di Sidoarjo
Warta Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia berkolaborasi meningkatkan produktivitas budi daya rumput laut Gracilaria di Sidoarjo, Jawa Timur sebagai salah satu dari komoditas unggulan sekaligus mendorong hilirisasi.
Dalam siaran resminya menyoroti kolaborasi itu diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional yang dituangkan dengan melakukan rehabilitasi tambak, penyediaan bibit unggul, penguatan sarana produksi dan pascapanen, hingga mendorong investasi di bidang pengolahan.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya (Dirjen PB) KKP, Tb Haeru Rahayu menerangkan, “potensinya tidak berhenti pada produksi. Hulu harus diperkuat, kemudian hilirisasinya juga perlu terus didorong agar muncul investasi dan industri pengolahan yang bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” kata Tebe, sapaan akrab TB Haeru Rahayu di Jakarta, Rabu (23/9).
Proyeksi permintaan rumput laut global pada tahun 2029 nanti diperkirakan mencapai 40–43 juta ton, dengan kategori makanan siap konsumsi mendominasi lebih dari setengah total permintaan. Oleh sebab itu, potensi pengembangan budi daya Gracilaria KKP penuh optimistis memiliki prospek sangat besar.
Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai produsen rumput laut terbesar kedua dunia, dengan volume produksi pada 2024 mencapai 9,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, Gracilaria menyumbang sekitar 16,5 persen produksi di 15 provinsi produsen utama.
Dirjen PB KKP Tebe dalam penjelasannya merinci, produksi Gracilaria di Jawa Timur tercatat sebanyak 31.947 ton yang dihasilkan melalui sistem polikultur bersama ikan bandeng. Sambungnya, berbagai program guna memperkuat usaha pembudidaya, di antaranya mulai dari pengadaan dua unit ekskavator mendukung perbaikan tambak, pemberian bibit Gracilaria unggul dan benih bandeng hingga dukungan pembiayaan.
Menurutnya, optimalisasi dan penguatan itu diarahkan agar produksi di tingkat pembudidaya semakin terhubung dengan industri pengolahan.
Ia melanjutkan, dua UPT Ditjen Perikanan Budi Daya di Pulau Jawa yakni Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo dan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara akan diproyeksikan untuk mengembangkan teknologi pembibitan Gracilaria berbasis spora.
Sambungnya, teknologi pembibitan berbasis spora sudah berjalan di BPBAP Takalar dan masih berada dalam naungan milik KKP, salah satunya penyediaan bibit yang didekatkan ke sentra-sentra produksi rumput laut di Pulau Jawa.
Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (Kabidbap) Takalar, Boyun Handoyo menyoroti BPBAP Situbondo dan BBPBAP Jepara, “tahun ini telah dikirimkan sekitar 2 ton bibit Gracilaria hasil teknologi spora ke Sidoarjo. Dia berharap bibit-bibit itu agar terus dikembangkan dan diperbanyak sehingga pembudidaya memiliki sumber bibit berkualitas,” kata Boyun.
Resident Representative UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella menilai perbaikan pengelolaan bibit, proses panen, dan pengolahan menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai yang diterima pembudidaya. Keterlibatan sektor swasta, investor, dan industri juga diperlukan untuk mendukung koperasi melakukan diversifikasi produk, memperkuat pengolahan, serta memperluas akses produk rumput laut Indonesia ke pasar global.
“Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, dan Sidoarjo relevan dalam potensi besar tersebut. Selanjutnya, hilirisasi perlu diperkuat agar rumput laut dapat menghasilkan lebih banyak produk dan nilai tambah di dalam negeri,” pungkasnya. (B)



















